Testimoni dari Para Mamil yang Ingin Tahu Kelamin Janin

CICILIA INTAN SARI (26), ibu rumah tangga, hamil anak pertama usia 32 minggu. “Pas hamil lima bulan, dokter memberitahu anak kami perempuan. Kebetulan lagi kelihatan banget pakai USG. Jadi dokternya yakin. Saya dan suami memang ingin tahu jenis kelaminnya karena kami termasuk tipe orang yang enggak ingin terburu-buru melakukan sesuatu. Kalau sudah tahu jenis kelaminnya bisa lebih tenang menyiapkan nama dan kebutuhan bayi.”

Baca juga : Kursus Bahasa Jerman di Jakarta

VIRA SAVIRA (33), psikolog, mama dari Soshi (1,4) dan Sola (2,7), sedang menanti kelahiran anak ketiga. “Setiap hamil, saya dan suami tidak pernah sengaja memeriksakan jenis kelamin anak kami. Mau anak laki-laki atau perempuan sama saja. Karena itu, hingga tiba waktu bersalin, saya lebih banyak membeli perlengkapan bayi berwarna netral. Sedangkan nama anak, disiapkan untuk laki-laki dan perempuan. Tapi, menyiapkan nama anak perempuan lebih sulit. Kebetulan anak pertama dan kedua perempuan. Untuk anak pertama, namanya baru dipastikan pada hari kelahirannya; yang kedua malah setelah hari ketiga baru ada namanya.”

NDAH YULIANA (36), HR specialist, mama Faizi (9) dan Fadhil (4), baru melahirkan anak ketiga. “Saya berharap memperoleh seorang putri sebagai anak ketiga. Karena itu, pada usia kehamilan 5 bulan, saya sengaja memeriksakan jenis kelaminnya. Deg-degan banget waktu diperiksa dan saat dokter bilang perempuan, rasanya bahagia sekali. Namun, saya sempat cemas untuk menyampaikan kabar itu pada sang suami yang bertugas di kota lain. Soalnya suami inginnya anak laki-laki. Akhirnya seminggu kemudian baru saya cerita ke suami. Dia komentar, ‘Ah, itu belum pasti, kan?’ Namun, tiga kali pemindaian USG hingga menjelang persalinan selalu menunjukkan bayi saya berjenis kelamin perempuan. Akhirnya, suami pasrah dan sekarang malah sayang banget sama anak perempuannya.”

CAROLINA AYU (36), trade export specialist, mama dari Satrio (8) dan Ardhi (6), hamil anak ketiga. “Pada kehamilan ketiga ini, saya sempat minta dokter untuk tidak membe ritahu jenis kelamin anak saya. Soalnya, saya berharap anak ketiga ini perempuan, jadi takut kalau tahu sebaliknya akan kurang semangat menjalani keha milan. Tapi dokter ‘memarahi’ saya, justru lebih baik tahu sekarang sehingga bisa menyesuaikan antara harapan dengan kenyataan. Tapi sampai kehamilan saya usia 5 bu lan ini, USG belum dapat mendeteksi jenis kelamin janin. Akhirnya kami pasrah saja mau dikasih anak laki-laki atau perempuan. Yang penting bayinya sehat.”

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *