tak senang. Ia mengacungkan tangan berkali-kali. Suaminya yang duduk di sebelah menenangkan. ”Calm down,” katanya setengah berbisik. Beruntung ada Liu Jiamin, 59 tahun, penerjemah lain yang menemani saya sejak hari pertama perjalanan. Jiamin telah lebih dari 20 tahun bekerja sebagai pemandu di biro perjalanan pemerintah. Bahasa Inggrisnya bagus—nyaris tanpa aksen.

Sejak sehari sebelumnya ia sudah menjelaskan kepada saya perihal mekanisme pembayaran ganti rugi. Pada dasarnya, kata Jiamin, semua tanah di Cina milik negara. Meski demikian, jika ada bangunan digusur dan tanah disita, pemerintah akan memberikan kompensasi. Dalam kasus Tong, pemerintah membayar 50 ribu yuan untuk rumah dan tanah. Pemerintah juga memberi 20 ribu per orang dalam tiap keluarga.

Di luar itu masih ada 2.200 yuan untuk biaya pindah. Total Tong mendapat 150 ribu yuan. Ia mengaku menggunakan tabungan dari penghasilannya sebagai pemborong untuk menambal kekurangan. Penjelasan Jiamin meredakan ketegangan. Tapi pertanyaan tak berhenti. Turis lain meminta Tong menjelaskan adakah teman-temannya yang tak puas terhadap skema uang pengganti. Tong menggeleng.

”Semua puas,” katanya. ”Apakah Anda kangen rumah lama?” ”Saya tak kangen. Rumah itu jelek.” Karena mereka terkesan membela pemerintah, beberapa turis menunjukkan mimik tak senang. Ruth memandang ke arahku. ”Saya tetap tak puas. Tapi saya menyerah,” katanya. Lalu giliran Tong mengajukan pertanyaan. ”Benarkah di Amerika banyak perampok? Saya menontonnya di televisi.” Sejumlah orang tertawa. Beberapa nenek terpancing untuk menjelaskan dengan berapi-api bahwa televisi tidak sepenuhnya menggambarkan kenyataan.

Pertemuan hampir satu jam itu berakhir menjelang sore. Tong mengantar tamunya ke halaman. PERJALANAN itu ditempuh dalam waktu tiga hari. Menempuh 630 kilometer, Chongqing-Yichang merupakan rute yang lazim dilalui turis. Arah sebaliknya, akibat melawan arus, memakan waktu satu hari lebih lambat. Saya menumpang Victoria Lianna, kapal berbobot 4.576 ton.

Dimiliki oleh warga Amerika asal Cina, tujuh kapal Victoria melayani rute itu—juga sebaliknya—setiap hari. Menuju Shanghai, kota paling hilir dari aliran Yangtze, Victoria hanya menyediakan satu kapal per pekan. Selain Victoria, terdapat beberapa kapal lain yang melayani rute yang sama. Tak banyak pelayaran komersial ke arah hulu. ”Jalurnya menyempit sehingga sulit dilalui,” kata Jiamin. Berawal di pegunungan Tibet, Sungai Yangtze terbentang 6.300 kilometer dari barat ke timur—tiga perempat jarak dari Sabang sampai Merauke.

Sejak zaman baheula, Yangtze menjadi jalur transportasi pedagang dan pelintas. Jauh dari laut dan minimnya transportasi darat di Cina bagian tengah, Yangtze menjadi satu-satunya pilihan selain Sungai Kuning di sebelah utara. Bagian paling sulit bagi pelintas dengan kapal tanpa motor adalah perjalanan melawan arus ke hulu. Di beberapa bagian, aliran sungai deras menghunjam. Perahu yang lewat terpaksa ditarik dengan tambang dari pinggir bengawan—dari tebing-tebing terjal atau sisi berbatu besar. Para penarik, yang jumlahnya bisa puluhan, mengutip upah untuk jasa itu.

Gesekan tambang berulangulang menggerus batu-batu di pinggir sungai hingga menyerupai pahatan memanjang. Sepotong batu besar dengan ceruk bekas gesekan dipamerkan di Museum Chongqing. Di dekatnya terdapat patung sejumlah lelaki tanpa baju sedang menarik kapal.

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *