TERBENTANG 6.300 kilometer dari barat ke timur Tiongkok, Sungai Yangtze adalah denyut nadi bangsa Cina. Sejak beribu tahun silam, bengawan ini merupakan sarana transportasi manusia dan barang selain tapal batas yang memisahkan Cina bagian utara dan selatan. Yangtze juga saksi sejarah tenggelamnya kota-kota di sepanjang sungai akibat pembangunan Bendungan Tiga Ngarai.

Demi listrik dalam jumlah besar, naiknya permukaan sungai menghancurkan banyak situs purbakala dan mengubah kehidupan lebih dari satu juta warga Tiongkok. Wartawan Tempo Arif Zulkifli selama tiga hari, pada pertengahan April lalu, mengarungi Sungai Yangtze. Reportase dari Chongqing di Cina Barat Daya hingga Yichang di Provinsi Hubei: cerita tentang penduduk yang direlokasi, museum-museum yang menyimpan sejarah panjang, dan alam dengan keindahan yang tak tepermanai.

DISKUSI hangat itu terjadi di ruang tamu lantai dua kediaman Tong Hu Li, p e r te n g a h a n April lalu. Lelaki 53 tahun itu adalah petani yang direlokasi karena kampungnya di Feng Du, di tepi Sungai Yangtze, Cina, terendam air akibat pembangunan Bendungan Tiga Ngarai (Three Gorges). Di depannya, 15 turis Amerika duduk di kursi plastik dalam formasi melingkar.

Tak berbahasa Inggris, Tong berbicara dengan bantuan Three Shi, seorang pemandu. Mengunjungi Tong merupakan salah satu kegiatan para turis yang mengarungi Yangtze, sungai ter-panjang ketiga di dunia. Berlayar dari Chongqing di Cina Barat Daya hingga Yichang di Provinsi Hubei, Feng Du adalah perhentian pertama para pelancong.

Lebih dari satu juta orang mengungsi akibat rumahnya terendam air. Tong termasuk beruntung: ia hanya pindah beberapa kilometer dari rumah asalnya. Tiga generasi menjadi petani, kini Tong bekerja sebagai penjaga keamanan. ”Pernah juga jadi tukang ojek,” katanya dalam bahasa Mandarin. Beberapa turis, umumnya di atas 70 tahun, bertanya tentang rumah Tong yang dianggap terlalu mewah untuk seorang satpam: mirip ruko, kediaman itu berlantai empat dan dilengkapi basement.

Di ruang tamu berlantai keramik itu terdapat televisi besar dan lemari es dua pintu. Tong menjelaskan bahwa rumah itu ia dapat dari uang pengganti yang dibayar pemerintah. Rumah lamanya 170 meter persegi. Rumah baru 400 meter persegi. ”Berapa harga rumah ini?” ”Berapa penggantian pemerintah untuk rumah lama Anda?” beberapa turis bertanya.

Tong menyebut 50 ribu yuan, sekitar Rp 100 juta, untuk rumah lama. Rumah baru ia bangun dengan biaya 160 ribu yuan. ”Dari mana Anda membayar sisanya?” turis lain menyergah. Tong menjawab agak panjang. Sesekali ia berdiskusi dengan Three. Tapi jawaban itu tak memuaskan. Ruth, nenek asal Carolina Utara, Amerika Serikat, menunjukkan mi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *