Fonterra mengklaim, pada 2015 sebanyak 45% peternak sapi perah lokal binaannya telah mampu memproduksi lebih banyak susu dengan kualitas lebih tinggi. Selain itu, para peternak juga semakin ahli dalam pengelolaan pakan dan mensejahterakan hewannya.

Emma Parsons, General Manager Responsible Dairying Fonterra mengata kan, program beasiswa merupakan program yang bagus untuk para peternak sapi perah di Indonesia. “Program tersebut bagus untuk dijalankan di Indonesia karena sebagai perusahaan berbasis koperasi kami sudah sangat berpengalaman melakukan pendekatan farmers one to one,” jelas Emma yang hadir sebagai pembicara panel diskusi komoditas susu sapi perah di acara Responsible Business Forum on Food and Agriculture di Jakarta beberapa waktu lalu. Selain di Indonesia, secara global Fonterra memiliki program yang ber beda untuk pasar yang berbeda dalam rangka mendukung pasok an susu yang berkelanjutan.

“Di Sri Lanka peternak kami dari Selandia Baru datang langsung untuk memberi pelatihan, sedangkan di Jepang programnya lebih mengajarkan bagaimana meningkatkan kua litas makanan ternak dan yang berhubungan dengan kesejahteraan hewan,” jelas Emma. Selama lima tahun terakhir, Kukuh Ambar Waluyo, Head of Marketing PT Bayer Indonesia, melihat adanya pertumbuhan luar biasa terhadap tren beras bermerek.

“Saat ini pertumbuhan ekonomi di Indonesia merupakan yang paling tinggi dibandingkan dengan negara-negara ASEAN. Kelas menengah atas seperti karyawan, supervisor, dan lainnya itu pasti maunya mengonsumsi yang berkualitas, jadi mereka pasti berpikir mengenai merek (branding),” ujarnya pada acara buka bersama PT Bayer Indonesia di Jakarta (14/6).

Kukuh melanjutkan pertumbuhan tren branding paling tinggi dicapai saat 2015-2016. “Dari lima tahun lalu, pasar tumbuh hampir sete – ngah, total sekitar 50%-60%,” jelasnya. Bahkan saat ini, beras branding banyak memasok kebutuhan beras di hotel-hotel. Pemain padi pun bukan hanya dari pemain lama, lanjut Kukuh, banyak perusahaan besar yang masuk ke beras branding. “PT TIga Pilar Sejahtera itu pemain paling awal, sekarang ada Kirana Megantara, Rachmat Gobel bahkan Indofood punya beras branded,” ungkapnya. Perusahaan energi pun juga sudah masuk ke padi seperti Medco.

“Mereka itu buka lahan di Merauke, tapi karena tidak punya tenaga ahli di bidang pertanian jadi mereka minta kita untuk support di lapangan. Di sana mau buat food estate pertanian,” sambung Kukuh.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *