Penelitian menyatakan, janin dari mama yang terpapar virus flu selama kehamilan memiliki kemungkinan terkena skizofrenia ataupun bipolar di kemudian hari. Waduh! Selama beberapa dekade, inIeksi saat hamil dianggap sebagai Iaktor risiko yang berpotensi untuk terjadinya skizofrenia.

Baca juga : Beasiswa S1 Jerman Full

Hal ini dimulai di Finlandia dengan publikasi pada 1988 oleh Mednick dkk yang melaporkan peningkatan risiko skizofrenia pada Manin yang dikandung selama epidemi influenza tahun 1957 kemudian, Desember 2007, sebuah studi dari Denmark kembali menunjukkan peningkatan risiko skizofrenia pada janin terkait dengan influenza yang diderita selama kehamilan. Begitu pun dengan penelitian terbaru pada 2014 yang dilakukan oleh Alan Brown, MD, MPH, dari Columbia University dan New York State psychiatric Institute di Amerika Serikat, dengan jumlah sampel yang besar dan bukti serologi (ilmu tentang reaksi kekebalan dalam serum atau tentang kerja berbagai serum).

Skizofrenia adalah penyakit kejiwaan yang dicirikan dengan adanya gangguan dalam penilaian realita. Gejala yang sering muncul, yaitu halusinasi sering kali bersiIat auditorik/pendengaran dan delusi/waham. Halusinasi adalah gangguan persepsi dimana seseorang mendengar atau melihat atau merasakan sesuatu yang tidak ada. Sedangkan delusi/waham adalah keyakinan yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan sosial budaya seseorang yang kekeuh dipertahankan dan tidak bisa digoyahkan.

Sering kali waham yang terjadi adalah waham paranoid, seseorang mengalami keyakinan bahwa ada seseorang yang hendak berbuat jahat terhadap dirinya. Selain itu, biasanya pasien skizofrenia juga mengalami gangguan dalam proses pikir (inkoheren) yang sering terlihat dalam bentuk pembicaraan yang kacau atau ngawur. Akan halnya bipolar adalah gangguan suasana perasaan (mood). Pasien yang mengalami bipolar dicirikan dengan perubahan ekstrem suasana perasaan dari depresi ke manik alias muncul gejala gembira dan sedih yang datang silih berganti.

Saat manik, pen derita bipolar menunjukkan energi berlebihan, euforia perasaan nyaman atau pera saan gembira yang berlebihan, banyak bicara, aktivitas seksual yang meningkat, dan boros. Mereka juga bisa melakukan hal-hal ceroboh dan membahaya kan diri. Saat depresi, pasien bipolar bisa melakukan sebaliknya, murung, tidak bisa beraktivitas karena kekurangan energi, muncul pikiran akan masa depan yang suram dan hampa, sampai-sampai terdorong melakukan upaya bunuh diri.

Sumber : https://ausbildung.co.id/

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *