Efek Nirkekang Daring dan Ruang Gema

SULLER (2004), ahli psikologi Internet, mengidentifkasi faktor-faktor kenapa ketika sedang daring (online) orang bisa mengatakan atau melakukan tindakan yang mungkin tidak mereka lakukan dalam komunikasi tatap muka. Alasannya, mereka lebih bebas, merasa tidak terkekang, dan mengekspresikan diri lebih terbuka—fenomena yang disebutnya online disinhibition effect (efek nirkekang daring). Karena efek ini, orang bisa menjadi lebih mudah menunjukkan simpati dan murah hati yang dalam dunia nyata sukar mereka ungkapkan. Sebaliknya, pada ujung yang lain kita juga melihat sering digunakannya secara terbuka kata-kata kasar, kemarahan, kebencian, bahkan ancaman—sekali lagi hal yang mungkin tidak mereka lakukan di dunia nyata.

Media sosial memungkinkan orang-orang yang tadinya tak terhubung bisa menjadi tergabung dalam jaringan orang-orang yang punya pikiran yang sama. Kajian Polonski (2016), ahli studi Internet, menunjukkan semakin intensif orang berhubungan dengan kelompok orang yang memiliki pikiran yang sama, pandangan yang sebelumnya dipegang pun akan menjadi semakin ekstrem. Terciptalah apa yang disebut sebagai echo chamber (ruang gema), yaitu ketika orang hanya berkomunikasi dengan orang-orang lain yang sudah sepikiran sehingga memperkuat dan memperteguh pikiran-pikiran tersebut.

Seperti halnya gema, pikiran-pikiran tersebut tersebar berulang-ulang dalam pelbagai variasi dalam sistem ”yang tertutup”. Dalam kondisi seperti ini, informasi yang keliru,hoax, dan rumor akhirnya dianggap sebagai kebenaran. Para psikolog juga mengenal fenomena yang disebut confrmation bias (bias konfrmasi), yaitu kecenderungan orang untuk mencari, menafsirkan, dan mengingat informasi, mengkonfrmasi, atau meneguhkan pandangan yang dimiliki sebelumnya. Hoax atau rumor segera dianggap sebagai kebenaran jika sesuai dengan pandangan sebelumnya.

Fenomena ini sangat kentara dalam persoalan yang bermuatan emosi, misalnya soal politik dan, tentu saja, agama. Orang juga cenderung dengan serta-merta membagi (share) atau menyiarkan (broadcast) informasi yang diterimanya. Menurut Sherry Turkle (2012), ahli psikologi dan peneliti Internet, dunia daring membuat orang selalu terhubung dan menawarkan pemenuhan tiga kepuasan (gratifcation): bebas memberi perhatian di mana pun kita berada, selalu akan didengar atau diperhatikan, dan kita tidak pernah sendirian.

Dengan demikian, jika tiba-tiba kita memiliki waktu jeda (bahkan misalnya saat menunggu lampu merah atau di tengah percakapan dengan orang lain), kita merasa ”cemas” dan segera menuju dunia daring. Kita mengecek status Facebook atau Twitter, memeriksa WA group—lalu menulis status atau kicauan, dan meng-RT, me-like, atau men-share informasi. Turkle menyebutnya gejala ”I share, therefore I am” (aku membagi, maka aku ada)—pelesetan menarik dari kata flsuf Descartes, ”I think, therefore I am” (aku berpikir, maka aku ada). Sebagai bagian politik identitas, orang menulis status atau menyebarkan berita— sering kali tak peduli apakah hoax atau rumor—yang meneguhkan ruang gema mereka.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *