Beberapa tahun lalu, interior modern dan minimalis cukup berjaya, khususnya di Indonesia. Sayangnya, seringkali konsep yang tengah menjadi primadona ini diterapkan secara salah kaprah, khususnya oleh masyarakat awam. Bahkan, beberapa desainer interior mengungkapkan, bahwa konsep minimalis ini kurang sesuai bila digunakan oleh masyarakat Indonesia, mengingat kebanyakan dari mereka bersifat “kolektor”.

Baca juga : Kontraktor Semarang

Alhasil, lambat laun, rumah dengan bentuk-bentuk modern ini dianggap membosankan. Monoton. Bahkan, dengan kesalahan pemahaman akan konsep modern dan minimalis, fungsi kenyamanan hunian pun tak dapat terpenuhi. Namun, beda halnya dengan rumah contoh Casa Jardin yang berada di pinggir Jalan Daan Mogot, Jakarta Barat ini. Kali pertama memasuki bangunan 2 lantai tersebut, ruang tamu nyaman bernuansa biruabu lah yang menyambut kami.

Kesan “teduh” terasa secara visual. Aksen dekoratif pun diterapkan secara pas di meja buffet, tepat di seberang area duduk, sehingga tak menghilangkan kesan “teduh” pada ruangan ini. Rupanya, kejutan telah menanti kami di ruang-ruang lainnya. Salah satunya, ruang makan—yang berada tepat di bawah area void—dengan dinding kayu dan tanamantanaman gantung; serta ruang keluarga berbata putih yang terletak bersebelahan.

Beda Ruang, Beda Tema, Satu Konsep Sang desainer—Sri Yanty Jusup—mengatakan, sentuhan konsep American Style lah yang mendasari perancangan rumah contoh seluas 160m2 ini. Tak heran. Kami melihat elemen-elemen dekoratif bernuansa Amerika memenuhi setiap sudut bangunan berkamar 3 ini. “Meskipun saya memang banyak menyisipkan desain ala Amerika ke dalam bangunan ini, saya pun membedakan temanya, sesuai fungsi ruang,” ujar Sri Yanty menjelaskan.

Sebagai contohnya, ruang makan didominasi oleh tema natural, dengan panel dinding kayu dan tanaman-tanaman hijau plastik yang menggantung di atas meja makan. Tanaman-tanaman tersebut menggantung di lis hitam, senada dengan lampu modern, yang berkap hitam pula. Desainnya pun tampak berbeda dengan ruang keluarga yang cenderung bertema “maskulin”. Panel dinding, yang terdapat di belakang sofa, menjadi elemen yang mempertegas kesan “maskulin” itu. “Saya mendesain panel hitam dengan cara laser cutting, dan membuat rongga-rongga yang membentuk gedung-gedung perkotaan, agar kesan urban dapat hadir. Lebih maskulin, bukan?” ucap Sri Yanty antusias.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *