Penyebab lainnya, bisa berupa janin kekurangan oksigen akibat kontraksi terusmenerus, penyakit pada mamil, seperti preeklamsia, serta ketuban pecah dini. Begitu juga bila mama merasakan gerakan janin terlalu aktif yang memengaruhi kondisi kesehatan Mama, seperti: gerakan yang membuat perut nyeri atau mual, segera konsultasikan kondisi ini kepada dokter untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Nah, sudah siap menghitung gerakan sang buah hati di kandungan?

Baca juga : toefl ibt jakarta

Ingat Ini Kalau Mama Mulai Jutek

Suasana hati (mood) menjadi salah satu indikator kesehatan mental seseorang. Seperti, nada suara menekan (galak atau sinis), atau tidak bersemangat bangun di pagi hari, ekspre si wajah tidak ceria atau tidak manis, perilaku tidak menyenangkan, misalnya melanggar peraturan lalu lintas, salah kirim e-mail, terlambat datang , lupa sama janji, dan sebagainya. Pada saat-saat inilah, sebenarnya Mama membutuhkan me time.

Sayang, menurut Della, banyak Mama mengabaikan kesehatan mentalnya. lantaran merasa “gagal” menyeimbangan antara waktu pribadinya dengan keluarga. Padahal Mama bisa tetap dapat menikmati waktu untuk diri sendiri, selama Mama menyadari faktor yang menyebabkan Mama “terjebak” Apa saja itu? Della menjabarkannya sebagai berikut: U Mama tidak berupaya mengenali dan mengidentifikasi kebutuhan dan harapan pribadi serta harapan keluarga, sehingga membiarkan diri “diatur” oleh kondisi kerja ataupun kebutuhan anggota keluarga “tanpa batas”. U Mama tidak tergerak untuk menata waktu dan distribusi energi yang efektif, sehingga cenderung menjalankan segalanya, karena merasa bertanggung jawab padahal belum tentu kemampuannya memadai. U

Mama tidak terbiasa mengukur titik lelah dalam dirinya, sehingga hanya bertindak sebagai operator yang “tidak boleh menyerah” atau merasa bersalah ketika merasa lelah. U Mama tidak asertif dalam menolak penugasan ketika merasakan dirinya sudah tidak sanggup, karena kurangnya keterampilan mengomunikasikan pendapat secara terbuka. U Pribadi “superwoman” yang terbentuk sebagai tuntutan lingkungan sosial (termasuk keluarga) atau karena nilai-nilai budaya yang dianut. Di Indonesia, beberapa budaya membangun nilai-nilai luhur bahwa ibu merupakan sosok sentral di keluarga (matrilineal) sehingga tanggung jawabnya menjadi lebih besar terhadap sukses gagal nya keluarga.

Sumber : https://pascal-edu.com/

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *