Apa kesan Bapak setelah bisa membuat Indonesia melambung tinggi dengan hasil USOAP ICAO?

Ini suatu lompatan yang luar biasa, Quantum leap bagi Indonesia. Kita ini sudah 10 tahun di-ban oleh Uni Eropa karena dianggap keselamatan penerbangannya bermasalah. selama itu pula kita berupaya untuk menaikkan keselamatan penerbangan sesuai dengan regulasi regulasi yang sudah di-launching oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) mulai dari Annex 1 sampai 19 (ICAO compliance).

Nah complience inilah yang menjadi tolok ukur seluruh negara-negara yang tergabung dalam ICAO. Ada 191 negara anggota dan semua berlombalomba untuk menduduki peringkat atas. Pada tahun 2007 compliance kita 54 persen. Tahun 2009 ada kenaikan pada saat kita mempunyai UUD No 1 Penerbangan tetapi performance itu tidak di-maintenance. Pada tahun 2014 kita turun jauh terpuruk di angka 45 persen. Compliance ini terlalu bawah sehingga kita sering mendapatkan cemoohan bahwa Indonesia di bawah negara-negara dunia ketiga seperti Angola dan sebagainya dalam hal keselamatan penerbangan.

Melihat ini semua , saya yang mempunyai latar belakang aeronautika industri penerbangan, menghadirkan suatu patokan atau visi bahwa dalam waktu 8 bulan ke depan (Februari – Oktober) kita harus paling tidak tembus di rata-rata dunia yang dipatok 60 persen sehingga kita dipandang bermartabat oleh negara lain. Namun syukur alhamdulillah, ternyata kita malah bisa melampaui dengan nilai 81,15 persen. (Agus Santoso pada awalnya berkarir di IPTN dan kemudian pindah dan meniti karir di Ditjen Perhubungan Udara. Pada bulan Februari 2017 lalu, Agus dilantik menjadi Ditjen Perhubungan Udara).

 

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *