Bisa dijadikan agunan,” ucap Mulia man. Karena itu, OJK menggandeng Ke menterian Agra ria dan Tata Ruang agar memberikan sertifikasi gratis pada petani kecil. Selain itu, keberadaan off-taker atau pembeli produk hasil panen akan mem buka akses kapital. Off-taker ini membuat bank yakin kredit akan terbayar.

“Kalau belum pasti mau jual ke ma na ‘kan nanti ngangsur-nya jadi sulit,” lanjutnya. Skema penjaminan kredit oleh mitra atau lembaga asuransi pun mempermudah akses permodalan. Muliaman menjelaskan, “Bank bisa lebih bersemangat memberikan kredit kalau kre ditnya ada yang jamin.

Tanpa agunan nggak apa tapi ada yang jamin misalnya.” Sedangkan program jangka panjang yang harus terus dilakukan, lanjutnya, berupa edukasi keuangan pada masyarakat. “Rakyat kita ini baru 35% yang melek keuangan. Selebihnya masih perlu terus diedukasi. Bagaimana mung kin orang yang buta keuangan mau berhubungan dengan lembaga keuangan?” paparnya miris.

Ekosistem Agribisnis Pelaku usaha kecil tidak bisa berusaha karena ketiadaan akses modal sehingga peningkatan kesejahteraannya terhambat. Karena itu, cetus Master of Public Administration dari Harvard University, Amerika Serikat, pendekatan program harus dilakukan secara komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan akses. Salah satunya, membentuk inovasi rantai nilai sektor agribisnis yang dikembangkan Kemitraan Pertanian Berkelanjutan Indonesia (PISAgro) ber sama Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan ISEI.

PISAgro berperan men jalin kemitraan antara petani de ngan industri penyedia input produksi dan pembeli produk. Hasil panen akan dibeli perusahaan anggota Kadin. Sedangkan sertifikasi tanah difasilitasi cu ma-cuma oleh Kementerian Agraria. “Sehingga kalau sudah ngeklik (terhu bung) begini, sudah nyambung semua nya, ada kepastian mekanisme bisnis.

Ketika ada kepastian mekanisme bisnis, bank akan lebih semangat lagi ma suk membiayai. Ini inovasi rantai ni lai,” kata penikmat majalah agribisnis ini optimis. Pengertian inovasi rantai nilai itu membuat satu ekosistem produksi mu lai dari hulu-hilir yang akan menciptakan ekonomi dengan sendirinya. Sebab, masing-masing pihak memiliki rasa saling bergantung satu sama lain. “Dalam ekosistem inilah ada kehidup an, ada harapan. Makanya bank masuk membiayai karena sudah aman semua. Kalau petani masuk dalam ekosistem, bibit sudah ada yang nyuplai, ada penasihat lapangan, hasilnya sudah ada yang beli.

Ini ‘kan terjadi kehidupan, saling ketergantungan satu sama lain,”urai dia. Jika ekosistem ini terbentuk dengan baik dan diadopsi oleh banyak pelaku usaha, bukan tidak mungkin angka kemiskinan di Tanah Air akan turun meyakinkan. “Kita harapkan bisa menjawab itu. Kalau berhasil, akan kita terapkan ke produk-produk yang lain,” ucap pria yang tengah mengoleksi durian Nusantara ini.

Membahas kegemarannya mengoleksi durian, Muliaman berupaya menyempatkan diri berkunjung ke pa meran tanaman untuk mencari bibit du rian unggul dari setiap daerah Nu santara. Ia sudah mengoleksi beberapa jenis durian lokal, seperti durian ripto dari Trenggalek, Jatim, durian pelangi manokwari dari Papua Barat, dan durian bawor dari Banyumas, Jateng. “Saya suka duren. Senang ajapu nya satu-dua pohon ditanam. Makan (du rian) sih sudah nggak boleh kali ya. Paling makan dua butir,” ujarnya sambil tertawa.

Website : kota-bunga.net

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *